Tak ada pembeda di Baitullah
saat itu: status sosial, jabatan, harta, warna kulit, asal usul, semua
ditanggalkan. Setiap orang hanya mengenakan kain ihram putih, tanpa
jahitan, sebagai simbol persamaan derajat di mata Allah. Sekaligus
pengingat, manusia dilahirkan dan akan berpulang dalam kesejatiannya.
Dimulai dari sudut batu hitam, Hajar Aswad,
lautan lebih dari dua juta manusia bergerak searah, mengelilingi Ka'bah
sebanyak tujuh kali, hingga berakhir di sudut yang sama. Membentuk pola
lingkaran 360 derajat, yang bergerak melawan arah jarum jam, berporos
pada satu titik.
Tak hanya sekadar rukun yang harus dipenuhi
dalam ibadah haji, ritual Tawaf yang dilakukan sesudah melontar jumrah
Aqabah pada tanggal 10 Zulhijah memiliki makna yang dalam: begitulah
seluruh alam semesta bergerak.
"Ritual tawaf adalah simbol ketaatan alam semesta kepada Sang Pencipta, yaitu senantiasa melakukan gerak berputar," jelas Profesor Riset Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), Thomas Djamaluddin.
Tawaf,
menurut dia, sama halnya dengan gerak Bumi berputar pada porosnya yang
mengitari Matahari, Bulan mengitari Bumi, seperti bagaimana Bumi dan
planet lain mengitari Sang Surya dalam kesatuan galaksi. Seperti planet
lain di luar tata surya mengitari bintangnya. Dengan segala
keteraturannya.
Doktor lulusan Department of Astronomy, Kyoto University, Jepang itu menambahkan, jumlah tawaf sebanyak tujuh kali juga menjadi simbol tak terhingga dari simulasi gerak alam semesta. "Mengapa tujuh? Simbol tujuh itu juga berarti alam semesta ini bergerak secara terus-menerus, tanpa henti," kata dia.
Senada, Prof. Dr. Ahmad Fouad Pasha dari Kairo University berpendapat, tawaf adalah hukum kosmis. "Penemuan-penemuan
ilmiah membuktikan kita hidup di alam semesta yang tergantung pada
revolusi: Bumi mengitari Matahari sekali dalam setahun, Bulan
mengelilingi Bumi secara teratur, demikian halnya dengan satelit planet
lain," kata dia seperti dimuat situs Quran & Science.
Hukum revolusi juga berlaku pada atom,
satuan terkecil benda yang bisa dilihat dengan mikroskop. Sebuah atom
terdiri atas inti yang berdiameter kurang dari sepersejuta milimeter
atau nukleus yang dikelilingi elektron-elektron yang berputar dalam
jarak tertentu.
Karena semua materi di alam semesta, baik padat,
cair, atau gas, terdiri atas atom, ini berarti bahwa hukum revolusi
berlaku untuk semuanya: bintang, planet, bulan, hewan, tumbuhan, pasir,
laut, udara, semua benda.
Dia menambahkan, Ka'bah adalah pusat
spiritual dari orang-orang beriman. Mengacu pada ikatan seorang hamba
dengan Tuhannya. Tak hanya ketika berhaji, pemeluk Islam juga salat
menghadap Ka'bah setidaknya lima kali dalam sehari. Dari segala penjuru
dunia, menghadap ke satu titik.
TAWAF ALAM SEMESTA
Setiap
benda di alam ini selalu bergerak berputar untuk menjaga keseimbangan.
Dalam alam mikro, pada bagian terkecil dari setiap benda yang disebut
atom, elektron-elektron selalu berputar mengelilingi inti (pusat) atom,
disamping melakukan putaran rotasi dengan arah berlawanan dengan jarum
jam seperti perputaran (rotasi) bumi.
Dalam alam makro, bumi
bersama 8 planet yang lain (Merkurius, Venus, Mars, Yupiter, Saturnus,
Uranus, Neptunus, dan Pluto) berputar mengelilingi matahari (dalam tata
surya matahari kita).
Sementara itu matahari bersama bumi, 8 planet yang lain, dan puluhan bulan juga berputar mengelilingi pusat Galaksi Bimasakti.
Apakah galaksi Bimasakti hanya mempunyai satu matahari, bumi dan 8
planet itu? Ternyata tidak!. Galaksi Bimasakti mempunyai sekitar
milyaran matahari. Perjalanan matahari ini juga telah telah dijelaskan
dalam Al Qur’an 1400 tahun yang lalu
“Dan Matahari berjalan
di tempat peredarannya untuk masa yang telah ditentukan baginya. Itulah
ketetapan dari Yang Maha Kuasa lagi Maha mengetahui. Dan bagi bulan
telah Kami tetapkan manzilah-manzilah, sehingga dia kembali sebagai
bentuk tandan yang tua. Tidaklah mungkin matahari menyusul bulan dan
tidak mungkin malam mendahului siang karena semua beredar pada garis
orbitnya.” [TQS. Yasiin : 38-40]
Ini adalah ilmu pengetahuan modern. Perjalanan matahari mengelilingi pusat galaksi bimasakti (yang disebut black hole)
baru diketahui oleh para ilmuwan modern pada akhir abad ke 20, namun
telah diucapkan oleh seorang Nabi yang ummi, yang tidak dapat membaca
dan menulis, dan belum ada teleskop. Inilah Firman Allah yang diwahyukan
ke dalam kalbu Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam. Inilah
Mukjizat Al Qur’an yang akan selalu up to date sepanjang jaman.
Apakah
di langit sana hanya ada satu galaksi saja, yaitu Galaksi Bimasakti
itu? Ternyata tidak!. Galaksi bimasakti bersama galaksi-galaksi lain
(milyaran galaksi lain) membentuk kluster galaksi. Selanjutnya sistem
kluster galaksi yang terdiri atas milyaran benda-benda angkasa seperti
matahari, planet, bulan, meteor, asteroid, dan lain-lain juga berputar
(tawaf) mengelilingi pusat galaksi, yang oleh NASA disebut ”Monster Black Hole”
karena ukurannya yang jauh lebih besar dibandingkan black hole dalam
galaksi Bimasakti. Apakah hanya itu alam semesta ini? Subhanallah,
ternyata kluster galaksi yang berisi trilyunan benda-benda angkasa itu
tidak hanya satu, tapi masih ada milyaran lagi di sana, dan semuanya
berputar (tawaf) mengelilingi pusat yang entah berada di mana karena
hingga saat ini belum ada teleskop tercanggih yang berhasil memotretnya.
NASA sendiri mengakui bahwa pengetahuan manusia mengenai alam semesta
hingga sekarang ini kira-kira baru sebesar 3% saja.
Semua benda
langit yang senantiasa berputar (tawaf) itu selalu dalam keadaan
keseimbangan, sebagaimana Allah menjelaskan dalam Al-Qur’an :
“Yang
telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak
melihat ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah yang tidak seimbang. Lihatlah
berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang?” [TQS. Al Mulk : 3]
Terbayang
bukan, betapa luas jagat raya ini!. Di langit Allah ini ada
bermilyar-milyar matahari, planet dan bulan, sehingga benda-benda
angkasa jumlahnya trilyunan! Dan planet bumi yang kita tempati ini
sangatlah kecil di antara benda-benda langit yang berjumlah trilyunan
itu. Bumi kita ini bagaikan sebutir pasir di antara seluruh pasir yang
terhampar di seluruh permukaan bumi. Dan disanalah manusia tinggal
dengan berbagai kesombongannya. Betapa bumi kita ini sangat rapuh dengan
berbagai ancaman bahaya dari luar angkasa maupun dari dalam bumi
sendiri, dan kita yang tinggal disana sungguh tidak punya kekuatan
apa-apa terhadap kekuasaan Allah Yang Maha Perkasa, pemilik langit dan
bumi.
Sementara jagat raya ini selalu bertawaf, bertasbih dengan ketundukannya kepada sang Pencipta,
maka manusia sebagai bagian dari jagat raya ini juga senantiasa
bertawaf. Ka’bah adalah Rumah Allah (Baitullah), simbol keberadaan Allah
azza wa jalla di bumi, pusat jiwa dan manusia dari segenap penjuru
negeri, tempat suci yang penuh cahaya dan energi. Di sanalah manusia
bertawaf ketika melaksanakan ibadah Umrah dan Haji.
Tawaf adalah
berjalan berputar mengelilingi Ka’bah sebanyak 7 kali, dimulai dan
diakhiri pada garis cokelat yang ditarik dari titik Hajar Aswad. Jika
situasi dan kondisi memungkinkan, bagi laki-laki disunnahkan untuk
mencium Hajar Aswad terlebih dulu, namun jika tidak memungkinkan dapat
dilakukan dengan mengangkat tangan (istislam), sebagai tanda
seseorang yang berbaiat, berjanji kepada Allah subhanahu wa ta'ala untuk
terus menerus memegang janji dalam syahadatnya.
Tawaf adalah
ritual haji untuk mengasah komitmen dan integritas kepada Allah
subhanahu wa ta'ala. Komitmen tidak sekedar janji di mulut, tapi harus
diwujudkan dalam tindakan yang nyata dan terukur. Setelah kita melakukan
evaluasi dan introspeksi selama wukuf, maka di dalam tawaf kita
melakukan pembangunan mental untuk selalu menjadikan Allah sebagai
komitmen, sebagai prinsip, serta memegang teguh ketulusan dan kejujuran.
Bayangkan
ketika kita bertawaf mengelilingi Ka’bah, bulan juga bertawaf
mengelilingi bumi yang mengakibatkan terjadinya pergantian waktu bulan.
Ketika kita bertawaf mengelilingi Ka’bah, bumi juga bertawaf
mengelilingi matahari yang mengakibatkan terjadinya pergantian tahun.
Bumi bertawaf dengan kecepatan yang luar biasa, yaitu berputar pada
porosnya dengan kecepatan 1600 Km/jam, dan juga berputar mengelilingi
matahari dengan kecepatan 107.000 Km/jam. Sungguh suatu kecepatan yang
menakjubkan, jauh lebih cepat dari pesawat angkasa ulang-alik yang
paling canggih dengan kecepatan 20.000 Km/jam. Allah yang Maha Cerdas, Ar-Rosyid
telah mengatur kecepatan tawaf bumi, bulan dan matahari sedemikian rupa
agar tercapai kseimbangan alam yang terus menerus, dengan pergantian
waktu yang tepat. Dengan tawaf bumi, bulan, dan matahari yang demikian
cepat, waktu berlalu dengan cepat, waktu selalu maju tak pernah
berulang, maka waktu yang masih kita miliki untuk hidup jangan sampai
disia-siakan. Kita harus berpacu dengan waktu untuk mengumpulkan
sebanyak-banyaknya amal kebaikan.
Bumi yang kita tempati ini
selalu tunduk pada perintah Allah, berputar pada porosnya seperti gasing
(berotasi) dan juga mengelilingi matahari (berevolusi) tanpa henti, tak
pernah lelah dan membantah, padahal bumi tidak diberi akal. Lalu
mengapa kita, manusia yang diberi akal masih saja sering membantah dan
tidak tunduk secara total kepada perintah Allah? Bahwa sesungguhnya
ketika kita sholat berjamaah, kita tidak hanya berjamaah dengan orang
lain, tapi kita juga berjamaah bersama bumi, bulan, matahari,
planet-planet dan galaksi-galaksi di alam semesta. Kenapa demikian?
Karena secara fisik, gerakan sholat itu identik dengan gerakan berputar
(tawaf) yang mengandung unsur sudut 360o sekali putar. Ketika
benda-benda angkasa dan juga jamaah haji sedang berputar (tawaf), kita
yang sedang sholat juga identik dengan tawaf, satu rakaat identik dengan
satu putaran tawaf. Maka tanpa kita sadari, setiap kali sholat, kita
berjamaah dengan bumi tempat kita berdiri.
Wallahualam Bishawab
Minggu, 14 Desember 2014
DARI TULANG EKOR INILAH KELAK MANUSIA AKAN DIBANGKITKAN KEMBALI
Ketika
kita wafat, maka kita akan dikebumikan dan setelah beberapa tahun tubuh
kita akan menjadi tulang-belulang. Beberapa tahun kemudian
tulang-belulang itupun akan hancur dan berubah menjadi semacam biji, dan
di dalam biji tersebut, kita akan menemukan satu tulang yang sangat
kecil disebut ‘ajbudz dzanab (tulang ekor). Dari tulang inilah kita akan dibangkitkan oleh Allah azza wa jalla pada hari kiamat.
“Tiada
bagian dari tubuh manusia kecuali akan hancur (dimakan tanah) kecuali
satu tulang, yaitu tulang ekor, darinya manusia dirakit kembali pada
hari kiamat.” [HR. Bukhari, Nomor 4935]
Dari Abu Hurairah rahimullah, bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Seluruh
bagian tubuh anak Adam akan (hancur) dimakan tanah kecuali tulang ekor
(‘ajbudz dzanab), darinya tubuh diciptakan dan dengannya dirakit
kembali.” [HR. Muslim, Nomor 2955]
Belasan abad lamanya,
hadits tersebut menjadi hal yang gaib yang tidak mungkin bisa dijelaskan
dengan logika. Seiring berjalannya waktu beberapa penelitian ilmiah
mampu menjelaskan kebenaran hadits tersebut dikemudian hari.
Seiring
kemajuan tekhnologi, fungsi organ tersebut kian terkuak. Tulang ekor
menyangga tulang-tulang di sekitar panggul dan merupakan titik pertemuan
dari beberapa otot kecil. Tanpa tulang ini, manusia tidak akan bisa
duduk nyaman.
Seorang Ilmuwan Jerman, Han Spemann,
berhasil mendapatkan hadiah nobel bidang kedokteran pada tahun 1935.
Dalam penelitiannya ia dapat membuktikan bahwa asal mula kehidupan
adalah tulang ekor. Darinyalah makhluk hidup bermula. Dalam
penelitiannya ia memotong tulang ekor dari sejumlah hewan melata, lalu
mengimplantasikan ke dalam Embrio Organizer atau pengorganisir pertama.
Saat sperma membuahi ovum (sel telur), maka pembentukan janin dimulai. Ketika ovum telah terbuahi (zigot), ia terbelah menjadi dua sel dan terus berkembang biak. Sehingga terbentuklah embryonic disk (lempengan embrio) yang memiliki dua lapisan.
Lapisan pertama, External Epiblast yang terdiri dari cytotrophoblasts
, berfungsi menyuplai makanan embrio pada dinding uterus, dan
menyalurkan nutrisi dari darah dan cairan kelenjar pada dinding uterus.
Sedangkan lapisan kedua, Internal Hypoblast
yang telah ada sejak pembentukan janin pertama kalinya. Pada hari
ke-15, lapisan sederhana muncul pada bagian belakang embrio dengan
bagian belakang yang disebut primitive node (GUMPALAN SEDERHANA).
Dari sinilah beberapa unsur dan jaringan, seperti ectoderm, mesoderm, dan endoderm terbentuk. Ectoderm, membentuk kulit dan sistem syaraf pusat. Mesoderm, membentuk otot halus sistim digestive (pencernaan), otot skeletal (kerangka), sistem sirkulasi, jantung, tulang pada bagian kelamin, dan sistem urine (selain kandung kemih), jaringan subcutaneous, sistem limpa dan kulit luar. Sedangkan, Endoderm, membentuk lapisan pada sistim digestive, sistem pernafasan, organ-organ yang berhubungan dengan sistem digestive (seperti hati dan pancreas), kandung kemih, kelenjar thyroid (gondok), dan saluran pendengaran. Gumpalan sederhana inilah yang mereka sebut sebagai TULANG EKOR.
Pada penelitian lain, Han
mencoba menghancurkan tulang ekor tersebut. Ia menumbuknya dan
merebusnya dengan suhu panas yang tinggi dan dalam waktu yang lama.
Setelah menjadi serpihan halus, ia mencoba mengimplantasikan bubuk
tulang itu pada janin lain yang masih dalam tahap permulaan embrio.
Hasilnya, tulang ekor itu tetap tumbuh dan membentuk janin sekunder pada
guest body (organ tamu). Meskipun telah ditumbuk dan dipanaskan sedemikian rupa, tulang ini tidak ‘hancur’.
Dr.Othman al Djilani dan Syaikh Abdul Majid
juga melakukan penelitian serupa. Pada bulan Ramadhan 1423 H, mereka
berdua memanggang tulang ekor dengan suhu tinggi selama sepuluh menit.
Tulang pun berubah, menjadi hitam pekat. Kemudian, keduanya membawa
tulang itu ke al Olaki Laboratory, Sana’a, Yaman, untuk dianalisis. Setelah diteliti oleh Dr. al Olaki, profesor bidang histology dan pathologi di Sana’a University,
ditemukanlah bahwa sel-sel pada jaringan tulang ekor tidak terpengaruh.
Bahkan sel-sel itu dapat bertahan walau dilakukan pembakaran lebih
lama!!
Dari sinilah, balasan pada hari kiamat kelak tidak akan pernah
tertukar. Dari tulang ekor inilah, manusia akan kembali dicipta, dan
mereka akan diberi balasan sesuai dengan kadar amal-amal mereka.
"Dan
apakah manusia tidak memperhatikan bahwa Kami menciptakannya dari
setitik air (mani), maka tiba-tiba ia menjadi penantang yang nyata. Dan
ia membuat perumpamaan bagi Kami; dan dia lupa kepada kejadiannya; ia
berkata: “Siapakah yang dapat menghidupkan tulang-belulang yang telah hancur luluh?” Katakanlah: “Ia akan dihidupkan oleh Tuhan yang menciptakannya pada kali yang pertama. Dan Dia Maha Mengetahui tentang segala makhluk.” [TQS. Yaasiin: 77-79]
"Kami
akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di
segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi
mereka bahwa Al-Quran itu adalah benar. Tiadakah cukup bahwa
sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu?" [TQS. Fushshilat 53]
Maha besar Allah dengan segala Kekuasaannya
kita wafat, maka kita akan dikebumikan dan setelah beberapa tahun tubuh
kita akan menjadi tulang-belulang. Beberapa tahun kemudian
tulang-belulang itupun akan hancur dan berubah menjadi semacam biji, dan
di dalam biji tersebut, kita akan menemukan satu tulang yang sangat
kecil disebut ‘ajbudz dzanab (tulang ekor). Dari tulang inilah kita akan dibangkitkan oleh Allah azza wa jalla pada hari kiamat.
“Tiada
bagian dari tubuh manusia kecuali akan hancur (dimakan tanah) kecuali
satu tulang, yaitu tulang ekor, darinya manusia dirakit kembali pada
hari kiamat.” [HR. Bukhari, Nomor 4935]
Dari Abu Hurairah rahimullah, bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Seluruh
bagian tubuh anak Adam akan (hancur) dimakan tanah kecuali tulang ekor
(‘ajbudz dzanab), darinya tubuh diciptakan dan dengannya dirakit
kembali.” [HR. Muslim, Nomor 2955]
Belasan abad lamanya,
hadits tersebut menjadi hal yang gaib yang tidak mungkin bisa dijelaskan
dengan logika. Seiring berjalannya waktu beberapa penelitian ilmiah
mampu menjelaskan kebenaran hadits tersebut dikemudian hari.
Seiring
kemajuan tekhnologi, fungsi organ tersebut kian terkuak. Tulang ekor
menyangga tulang-tulang di sekitar panggul dan merupakan titik pertemuan
dari beberapa otot kecil. Tanpa tulang ini, manusia tidak akan bisa
duduk nyaman.
Seorang Ilmuwan Jerman, Han Spemann,
berhasil mendapatkan hadiah nobel bidang kedokteran pada tahun 1935.
Dalam penelitiannya ia dapat membuktikan bahwa asal mula kehidupan
adalah tulang ekor. Darinyalah makhluk hidup bermula. Dalam
penelitiannya ia memotong tulang ekor dari sejumlah hewan melata, lalu
mengimplantasikan ke dalam Embrio Organizer atau pengorganisir pertama.
Saat sperma membuahi ovum (sel telur), maka pembentukan janin dimulai. Ketika ovum telah terbuahi (zigot), ia terbelah menjadi dua sel dan terus berkembang biak. Sehingga terbentuklah embryonic disk (lempengan embrio) yang memiliki dua lapisan.
Lapisan pertama, External Epiblast yang terdiri dari cytotrophoblasts
, berfungsi menyuplai makanan embrio pada dinding uterus, dan
menyalurkan nutrisi dari darah dan cairan kelenjar pada dinding uterus.
Sedangkan lapisan kedua, Internal Hypoblast
yang telah ada sejak pembentukan janin pertama kalinya. Pada hari
ke-15, lapisan sederhana muncul pada bagian belakang embrio dengan
bagian belakang yang disebut primitive node (GUMPALAN SEDERHANA).
Dari sinilah beberapa unsur dan jaringan, seperti ectoderm, mesoderm, dan endoderm terbentuk. Ectoderm, membentuk kulit dan sistem syaraf pusat. Mesoderm, membentuk otot halus sistim digestive (pencernaan), otot skeletal (kerangka), sistem sirkulasi, jantung, tulang pada bagian kelamin, dan sistem urine (selain kandung kemih), jaringan subcutaneous, sistem limpa dan kulit luar. Sedangkan, Endoderm, membentuk lapisan pada sistim digestive, sistem pernafasan, organ-organ yang berhubungan dengan sistem digestive (seperti hati dan pancreas), kandung kemih, kelenjar thyroid (gondok), dan saluran pendengaran. Gumpalan sederhana inilah yang mereka sebut sebagai TULANG EKOR.
Pada penelitian lain, Han
mencoba menghancurkan tulang ekor tersebut. Ia menumbuknya dan
merebusnya dengan suhu panas yang tinggi dan dalam waktu yang lama.
Setelah menjadi serpihan halus, ia mencoba mengimplantasikan bubuk
tulang itu pada janin lain yang masih dalam tahap permulaan embrio.
Hasilnya, tulang ekor itu tetap tumbuh dan membentuk janin sekunder pada
guest body (organ tamu). Meskipun telah ditumbuk dan dipanaskan sedemikian rupa, tulang ini tidak ‘hancur’.
Dr.Othman al Djilani dan Syaikh Abdul Majid
juga melakukan penelitian serupa. Pada bulan Ramadhan 1423 H, mereka
berdua memanggang tulang ekor dengan suhu tinggi selama sepuluh menit.
Tulang pun berubah, menjadi hitam pekat. Kemudian, keduanya membawa
tulang itu ke al Olaki Laboratory, Sana’a, Yaman, untuk dianalisis. Setelah diteliti oleh Dr. al Olaki, profesor bidang histology dan pathologi di Sana’a University,
ditemukanlah bahwa sel-sel pada jaringan tulang ekor tidak terpengaruh.
Bahkan sel-sel itu dapat bertahan walau dilakukan pembakaran lebih
lama!!
Dari sinilah, balasan pada hari kiamat kelak tidak akan pernah
tertukar. Dari tulang ekor inilah, manusia akan kembali dicipta, dan
mereka akan diberi balasan sesuai dengan kadar amal-amal mereka.
"Dan
apakah manusia tidak memperhatikan bahwa Kami menciptakannya dari
setitik air (mani), maka tiba-tiba ia menjadi penantang yang nyata. Dan
ia membuat perumpamaan bagi Kami; dan dia lupa kepada kejadiannya; ia
berkata: “Siapakah yang dapat menghidupkan tulang-belulang yang telah hancur luluh?” Katakanlah: “Ia akan dihidupkan oleh Tuhan yang menciptakannya pada kali yang pertama. Dan Dia Maha Mengetahui tentang segala makhluk.” [TQS. Yaasiin: 77-79]
"Kami
akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di
segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi
mereka bahwa Al-Quran itu adalah benar. Tiadakah cukup bahwa
sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu?" [TQS. Fushshilat 53]
Maha besar Allah dengan segala Kekuasaannya
Rabu, 08 Januari 2014
PENGERTIAN TAHLIL
Ada yang bilang tahlil dan tahlilan itu beda.. Ckckckck.. gw kasih tahu ya tong..
tahlil itu..adalah shighat masdar dari fi’il madly hallala yuhallilu
tahlilan yang berarti membaca kalimat La ilaha illallah (tiada tuhan yg
berhak disembah kecuali Allah) atau dengan kata lain tahlil adalah
pengertian dari zikrullah.
aku ulangi lagi..ya..
Kata Tahlilan berasal dari bahasa Arab tahliil (تَهْلِيْلٌ) dari akar kata: هَلَّلَ – يُهَلِّلُ – تَهْلِيْلا
yang berarti mengucapkan kalimat: لاَإِلَهَ إِلاَّ اللهُ
Tahlilan Adalah..Ungkapan kalimat bagi Pelaku pelaksanaan Zikir secara
prakitkum baik yang dilakukan seorang diri maupun berjemaah.
secara umum bisa diartikan " Pelaksanan zikir (tahlil) oleh seseoarang atau jama`ah yang biasa disebut tahlilan"
Dan ingat bahwa tahlil itu adalah sedekah..sebagimana Rasulullah bersabda :
عَنْ أَبِي ذَرٍّ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
أَنَّهُ قَالَ يُصْبِحُ عَلَى كُلِّ سُلَامَى مِنْ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ
فَكُلُّ تَسْبِيحَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَحْمِيدَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ
تَهْلِيلَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَكْبِيرَةٍ صَدَقَةٌ وَأَمْرٌ
بِالْمَعْرُوفِ صَدَقَةٌ وَنَهْيٌ عَنِ الْمُنْكَرِ صَدَقَةٌ وَيُجْزِئُ
مِنْ ذَلِكَ رَكْعَتَانِ يَرْكَعُهُمَا مِنَ الضُّحَى .رواه مسلم
“
Dari Abu Dzar radliallahu 'anhu, dari Nabi shalla Allahu alaihi wa
sallam, sesungguhnya beliau bersabda: "Bahwasanya pada setiap tulang
sendi kalian ada sedekah. Setiap bacaan tasbih itu adalah sedekah,
setiap bacaan tahmid itu adalah sedekah, setiap bacaan TAHLIL ITU ADALAH
SEDEKAH, setiap bacaan takbir itu adalah sedekah, dan amar ma’ruf nahi
munkar itu adalah sedekah, dan mencukupi semua itu dua rakaat yang
dilakukan seseorang dari sholat Dluha.” (Hadits riwayat: Muslim).
Dari Abu Dzar r.a. berkata, bahwasanya sahabat-sahabat Rasulullah saw. berkata kepada beliau:
“Wahai Rasulullah saw., orang-orang kaya telah pergi membawa banyak
pahala. Mereka shalat sebagaimana kami shalat, mereka berpuasa
sebagaimana kami berpuasa, namun mereka dapat bersedekah dengan
kelebihan hartanya.”Rasulullah saw. bersabda, “Bukankah Allah telah
menjadikan untukmu sesuatu yang dapat disedekahkan? Yaitu, setiap kali
tasbih adalah sedekah, setiap tahmid adalah sedekah, setiap tahlil
adalah sedekah, menyuruh pada kebaikan adalah sedekah, melarang
kemungkaran adalah sedekah, dan hubungan intim kalian (dengan isteri)
adalah sedekah.” Para sahabat bertanya,“Wahai Rasulullah, apakah salah
seorang di antara kami melampiaskan syahwatnya dan dia mendapatkan
pahala?” Rasulullah saw. menjawab,
“Bagaimana pendapat kalian jika
ia melampiaskan syahwatnya pada yang haram, apakah ia berdosa ? Demikian
juga jika melampiaskannya pada yang halal, maka ia mendapatkan pahala.”
(Shahih Muslim, Kitab Al-Zakat, Bab Bayan Anna Ismas Shadaqah Yaqa’u Ala Kulli Nau’ Minal Ma’ruf,hadits no 1006
CONTOH HADITS DIATAS ADALAH BUKTI BAHWA DIMASA RASULULLAH ADA AKTIPITAS TAHLILAN KARNA ITULAH RASLULLAH MENJELASKAN MAKSUDNYA.
MENGINGAT TAHLIL ADALAH SEDEKAH MAKA PERHATIKAN HADITS BERIKUT INI :
Diriwayatkan bahwa Rasulullah saw. telah bersabda:
“Maukah kuceritakan kepadamu tentang amalmu terbaik dan paling bersih
dalam pandangan Allah swt, serta orang yang tertinggi derajatnya di
antaramu, yang lebih baik dari menyedekahkan emas dan perak serta
memerangi musuh-musuhmu dan memotong leher mereka, dan mereka juga
memotong lehermu?” Para sahabat bertanya, “Apakah itu, wahai
Rasulullah?” Beliau menjawab, “Dzikir kepada Allah swt.” (H.r. Baihaqi).
Dalam Shahih al-Bukhari, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
“Sesungguhnya Allah memiliki banyak Malaikat yang selalu bepergian di
muka bumi. Apabila mereka bertemu dengan sekumpulan orang yang berdzikir
kepada Allah, maka mereka memanggil, “Silahkan sampaikan hajat kalian”,
lanjutan hadits tersebut terdapat redaksi, “Kami menemukan mereka
bertasbih dan bertahmid kepada-Mu”…
Dari Abu Hurairah ra. dari
Abu Sa’id ra., keduanya berkata, Rasulullah saw. bersabda: “Tidak ada
suatu kaum yang duduk dalam suatu majlis untuk dzikir kepada Allah
melainkan mereka dikelilingi oleh malaikat, diliputi rahmat, di turunkan
ketenangan, dan mereka disebut-sebut Allah di hadapan malaikat yang ada
disisi-Nya”
Dari hadits Mu’awiyah yang dihukumi marfu’, dia
berkata “Nabi bersabda untuk para jama’ah yang duduk berdzikir kepada
Allah: ” malaikat Jibril datang kepadaku dan menginformasikan bahwa
Allah membanggakan kamu kepada malaikat”
Sebuah hadis yang
masyhur menuturkan, bahwasanya Rasulullah saw. mengajarkan: “’Apabila
engkau melihat surga, maka merumputlah kamu semua di di dalamnya.”
Ditanyakan kepada bellau, “Apakah taman surga itu, wahai Rasulullah?”
Beliau menjawab, “Yaitu kumpulan orang-orang yang sedang melakukan
dzikir kepada Allah.” (H.r. Tirmidzi).
Allah swt. berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman, berdzikirlah kepada Allah dengan dzikir yang sebanyak banyaknya.” (Q.s. Al Ahzab: 41)
Dalam kitab I’anat al-Thalibin, yang berbunyi
كنا نعد الاجتماع إلى أهل الميت وصنعهم الطعام بعد دفنه من النياحة ووجه عده من النياحة ما فيه من شدة الاهتمام بأمر الحزن.
Berkumpul pada malam setelah kematian bukanlah menjadi tujuan. Yang
menjadi tujuan adalah berdzikir(Tahlil) dan berdoa untuk si mayit yang
sedang mengalami ujian berat sebagaimana yang ditegaskan didalam kitab
Nihayat al-zain, hal : 281 yang berbunyi :
وروي عن النبي صلى
الله عليه وسلم انه قال ما الميت في قبره الا كالغريق المغوث – بفتح الواو
المشددة – اى الطالب لان يغاث ينتظردعوة تلحقه من ابنه او اخيه او صديق له
فاذا لحقته كانت احب اليه من الدنيا وما فيها
Ketika seorang muslim
mendapat musibah (ditinggal mati keluarga, kena gempa, dll), adalah
suatu kesunahan bagi saudara-saudaranya untuk datang takziah kepadanya,
serta menghibur agar bersabar dari cobaan.Tidak ada yang lebih baik dari
menghibur serta meringankan bebannya selain daripada mengajaknya
berdzikir, mengingat Allah, dan berdoa bersama-sama, mendoakan si mayit
dan keluarga yg ditinggalkannya.
Dan sekali lagi itu adalah sedekah antar sesama dan sekaligus menjaga Ukhuwah yang juga sunnah.
MENGINGAT TAHLIL ADALAH SEDEKAH MAKA PERHATIKAN FIRMAN ALLAH BERIKUT INI BAGI ORANG YANG INGKAR
Allah pula berfirman:
الَّذِينَ يَلْمِزُونَ الْمُطَّوِّعِينَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ فِي
الصَّدَقَاتِ وَالَّذِينَ لاَيَجِدُونَ إِلاَّ جُهْدَهُمْ فَيَسْخَرُونَ
مِنْهُمْ سَخِرَ اللهُ مِنْهُمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ
(orang-orang munafik) yaitu orang-orang yang mencela orang-orang mu'min
yang memberi sedekah dengan sukarela dan (mencela) orang-orang yang
tidak memperoleh (untuk disedekahkan) selain sekedar kesanggupannya,
maka orang-orang munafik itu menghina mereka. Allah akan membalas
penghinaan mereka itu, dan untuk mereka adzab yang pedih. [At
Taubah:79].
(terjemahan asli tanpa menambahi versi Aljumanatul-Ali;
revisi terjemah oleh lajnah pentashih Mushaf Al-Qur'an departemen Agama
republik indonesia)
JIka kita cermati uraian diatas.. wahabi
salafi sama dengan ingkar sunnah bahkan ingkar quran. Dan bagimana mau
dikatakan wahabi salafi ahlussunnah jika tanpa sadar mereka melanggar
hadits dan quran seperti tersebut diatas ??
Terserah anda mau bagimana,namun pikirkan baik baik..jika anda termasuk orang yang cerdas dan diberi akal sehat
Senin, 21 Oktober 2013
Arnoud van Doorn, Bekas Rekan Wilders Penghina Islam, Berhaji Tahun Ini
ARNOUD van Doorn, mantan anggota Partai Kebebasan Belanda yang juga mantan seorang antiIslam, adalah salah satu dari ribuan orang yang datang ke Arab Saudi untuk melakukan ibadah haji. Demikian dilansir Riyadhconnect.
Van Doorn, awalnya seorang pendukung kuat Geert Wilders, pemimpin Belanda yang menciptakan film anti-Islam ‘Fitna’.
Ia mengundurkan diri dari Partai Kebebasan (PVV) yang dipimpin oleh Wilders setelah masuk Islam pada akhir tahun 2011.
Van Doorn menyatakan di depan umum bahwa ia telah memeluk Islam pada awal tahun 2013.
Van Doorn mengaku, ketika memproduksi film anti-islam, ia memelajari banyak hal terlebih dahulu tentang Islam. Dia membaca dan mempelajari Al-Quran secara mendalam dan akhirnya menjadi rohani yang terinspirasi oleh Islam.
Penghina Nabi Muhammad Kini Masuk Islam

Masuk Islamnya Arnoud Van Doorn membuat Belanda gempar. Pasalnya, Van Doorn adalah teman Geert Wilder sekaligus mantan Wakil Ketua Partai Kebebasan (PVV). Geert Wilders dikenal luas sebagai politisi anti-Islam yang pernah membuat film Fitna pada 2008 lalu. Sedangkan PPV yang didirikannya juga dikenal sebagai partai politik berhaluan liberal yang menentang Islam.
Apa alasan Van Doorn masuk Islam dan bagaimana ia mendapatkan hidayah? Berikut ini kisahnya:
Arnoud Van Doorn bukanlah nama baru dalam jagat perpolitikan Belanda. Ia aktif di PVV, bahkan menjadi salah satu pucuk pimpinan sebagai Wakil Ketua. Tetapi justru itulah yang mengusik hatinya. Mengapa partainya selalu memusuhi Islam? Rasa penasaran Van Doorn terhadap Islam semakin tak terbendung, hingga ia pun mulai mempelajari apa itu Islam yang sebenarnya.
"Saya benar-benar mulai memperdalam pengetahuan saya tentang Islam karena penasaran," kata Van Doorn mengenang awal mula hidayah Islam menghampirinya.
Rasa penasaran itu membuat Van Doorn mencari terjemah Al-Qur'an, hadits, dan buku-buku referensi Islam. Hari demi hari berikutnya ia lalui dengan membaca dan mengkaji buku-buku itu satu per satu, tanpa meninggalkan aktifitasnya yang lain. Selama ini Van Doorn hanya tahu Islam dari perkataan orang-orang yang membencinya.
Orang-orang yang dekat dengan Van Doorn sebenarnya tahu bahwa Van Doorn membaca referensi Islam, tetapi agaknya mereka tidak sampai berpikir bahwa itu akan menjadi jalan hidayah bagi Van Doorn. Karena lazim dalam dunia mereka, mengkaji sebuah pemikiran atau suatu faham tanpa harus mempercayai dan mengikutinya. Bahkan, tidak sedikit orang yang mempelajari Islam untuk kemudian menyerangnya.
Van Dorn menghabiskan waktu hampir setahun untuk mengkaji Qur'an, Sunnah dan sejumlah referensi Islam tersebut. Ia juga menyempatkan berdialog dengan penganut Islam untuk mengetahui lebih jauh tentang agama yang menarik hatinya tersebut.
"Orang-orang di sekitar saya tahu bahwa saya telah aktif meneliti Qur'an, sunnah dan tulisan-tulisan lain selama hampir setahun ini. Selain itu, saya juga telah banyak melakukan percakapan dengan Muslimin tentang agama," ujar Doorn kepada televisi Al-Jazirah Inggris.
Semakin lama mempelajari Islam, Van Doorn semakin tertarik. Ia mulai merasakan Islam sebagai sesuatu yang spesial. Meskipun sebelumnya ia juga memiliki pondasi Kristen sebagai agamanya, Van Doorn merasakan Islam itu istimewa.
Apa yang selama ini ada dalam kepalanya bahwa Islam itu fanatik, menindas wanita, tidak toleran, membabi buta memusuhi Barat, perlahan hilang dari pikirannya. Van Doorn menemukan Islam sebagai sesuatu yang sama sekali berbeda dari apa yang pernah ia sangka.
Van Doorn juga menemukan, Islam adalah agama yang cinta damai. Tidak seperti tuduhan media Barat yang selama ini mencitrakan Islam sebagai teroris.
"99 persen kaum muslimin adalah pekerja keras dan pecinta damai. Jika lebih banyak orang mempelajari Islam yang benar, semakin banyak orang yang akan melihat keindahan itu," kata Van Doorn ketika diwawancarai oleh MNA.
Jalan hidayah bagi Van Doorn semakin terbuka lebar ketika bertemu dengan seorang Muslim bernama Aboe Khoulani, seorang rekannya yang menjabat di Dewan Kota Den Haag. Selain menjelaskan Islam lebih jauh, ia juga menghubungkan Van Doorn dengan Masjid As-Soennah.
Puncak "pertarungan batin" dialami Van Doorn beberapa waktu kemudian. Apakah ia akan mengikuti hidayah yang diamini oleh fitrahnya itu atau sebatas menjadikannya sebagai pengetahuan. Beruntung, saat-saat itu tidak berlarut-larut. Setelah mantap dengan Islam, Van Doorn pun mengikrarkan syahadat. Ia pun menjadi Muslim dan menjadi saudara bagi sekitar 1,9 milyar umat. Tetapi bagi partai dan pengikutnya, Van Doorn dicap "pengkhianat."
Sumber : Republika
Rabu, 18 September 2013
GURU DAN AMALIAH KH. AHMAD DAHLAN (MUHAMMADIYYAH) DAN KH. HASYIM ASY’ARI (NU) ADALAH SAMA TIADA PERBEDAAN
Tulisan kali ini hendak mempertegas tulisan kami yang telah lalu
berjudul “Sejarah Awal Muhammadiyah yang Terlupakan”, dimana banyak dari
kita belum tahu atau sengaja melupakan sejarah awal Muhammadiyyah.
Secara ringkas kami katakan bahwa, KH. Ahmad Dahlan (pendiri
Muhammadiyyah pada 18 November 1912/8 Dzull Hijjah 1330) dengan KH.
Hasyim Asy’ari (pendiri NU pada 31 Januari 1926/16 Rajab 1344) adalah
satu sumber guru dengan amaliah ubudiyah yang sama. Bahkan keduanya pun
sama-sama satu nasab dari Maulana ‘Ainul Yaqin (Sunan Giri).
Berikut kami kutip kembali ringkasan “Kitab Fiqih Muhammadiyyah”,
penerbit Muhammadiyyah Bagian Taman Poestaka Jogjakarta, jilid III,
diterbitkan tahun 1343 H/1925 M, dimana hal ini membuktikan bahwa
amaliah kedua ulama besar di atas tidak berbeda:
1. Niat shalat memakai bacaan lafadz: “Ushalli Fardha...” (halaman 25).
2. Setelah takbir membaca: “Allahu Akbar Kabiran Walhamdulillahi Katsira...” (halaman 25).
3. Membaca surat al-Fatihah memakai bacaan: “Bismillahirrahmanirrahim” (halaman 26).
4. Setiap shalat Shubuh membaca doa Qunut (halaman 27).
5. Membaca shalawat dengan memakai kata: “Sayyidina”, baik di luar maupun dalam shalat (halaman 29).
6. Setelah shalat disunnahkan membaca wiridan: “Istighfar, Allahumma
Antassalam, Subhanallah 33x, Alhamdulillah 33x, Allahu Akbar 33x”
(halaman 40-42).
7. Shalat Tarawih 20 rakaat, tiap 2 rakaat 1 salam (halaman 49-50).
8. Tentang shalat & khutbah Jum’at juga sama dengan amaliah NU (halaman 57-60).
KH. Ahmad Dahlan sebelum menunaikan ibadah haji ke tanah suci bernama
Muhammad Darwis. Seusai menunaikan ibadah haji, nama beliau diganti
dengan Ahmad Dahlan oleh salah satu gurunya, as-Sayyid Abubakar Syatha
ad-Dimyathi, ulama besar yang bermadzhab Syafi’i.
Jauh sebelum
menunaikan ibadah haji, dan belajar mendalami ilmu agama, KH. Ahmad
Dahlan telah belajar agama kepada asy-Syaikh KH. Shaleh Darat Semarang.
KH. Shaleh Darat adalah ulama besar yang telah bertahun-tahun belajar
dan mengajar di Masjidil Haram Makkah.
Di pesantren milik KH.
Murtadha (sang mertua), KH. Shaleh Darat mengajar santri-santrinya ilmu
agama, seperti kitab al-Hikam, al-Munjiyyat karya beliau sendiri,
Lathaif ath-Thaharah, serta beragam ilmu agama lainnya. Di pesantren
ini, Mohammad Darwis ditemukan dengan Hasyim Asy’ari. Keduanya sama-sama
mendalami ilmu agama dari ulama besar Syaikh Shaleh Darat.
Waktu itu, Muhammad Darwis berusia 16 tahun, sementara Hasyim Asy’ari
berusia 14 tahun. Keduanya tinggal satu kamar di pesantren yang dipimpin
oleh Syaikh Shaleh Darat Semarang tersebut. Sekitar 2 tahunan kedua
santri tersebut hidup bersama di kamar yang sama, pesantren yang sama
dan guru yang sama.
Dalam keseharian, Muhammad Darwis memanggil
Hasyim Asy’ari dengan panggilan “Adik Hasyim”. Sementara Hasyim Asy’ari
memanggil Muhammad Darwis dengan panggilan “Mas atau Kang Darwis”.
Selepas nyantri di pesantren Syaikh Shaleh Darat, keduanya mendalami
ilmu agama di Makkah, dimana sang guru pernah menimba ilmu
bertahun-tahun lamanya di Tanah Suci itu. Tentu saja, sang guru sudah
membekali akidah dan ilmu fikih yang cukup. Sekaligus telah memberikan
referensi ulama-ulama mana yang harus didatangi dan diserap ilmunya
selama di Makkah.
Puluhan ulama-ulama Makkah waktu itu berdarah
Nusantara. Praktek ibadah waktu itu seperti wiridan, tahlilan,
manaqiban, maulidan dan lainnya sudah menjadi bagian dari kehidupan
ulama-ulama Nusantara. Hampir semua karya-karya Syaikh Muhammad Yasin
al-Faddani, Syaikh Muhammad Mahfudz at-Turmusi dan Syaikh Khathib
as-Sambasi menuliskan tentang madzhab Syafi’i dan Asy’ariyyah sebagai
akidahnya. Tentu saja, itu pula yang diajarkan kepada murid-muridnya,
seperti KH. Ahmad Dahlan, KH. Hasyim Asy’ari, KH. Wahab Hasbullah,
Syaikh Abdul Qadir Mandailing dan selainnya.
Seusai pulang dari
Makkah, masing-masing mengamalkan ilmu yang telah diperoleh dari
guru-gurunya di Makkah. Muhammad Darwis yang telah diubah namanya
menjadi Ahmad Dahlan mendirikan persarikatan Muhammadiyyah. Sedangkan
Hasyim Asy’ari mendirikan NU (Nahdlatul Ulama). Begitulah persaudaraan
sejati yang dibangun sejak menjadi santri Syaikh Shaleh Darat hingga
menjadi santri di Tanah Suci Makkah. Keduanya juga membuktikan, kalau
dirinya tidak ada perbedaan di dalam urusan akidah dan madzhabnya.
Saat itu di Makkah memang mayoritas bermadzhab Syafi’i dan berakidahkan
Asy’ari. Wajar, jika praktek ibadah sehari-hari KH. Ahmad Dahlan persis
dengan guru-gurunya di Tanah Suci. Seperti yang sudah dikutipkan di
awal tulisan, semisal shalat Shubuh KH. Ahmad Dahan tetap menggunakan
Qunut, dan tidak pernah berpendapat bahwa Qunut sholat subuh Nabi
Muhammad Saw adalah Qunut Nazilah. Karena beliau sangat memahami ilmu
hadits dan juga memahami ilmu fikih.
Begitupula Tarawihnya, KH.
Ahmad Dahlan praktek shalat Tarawihnya 20 rakaat. Penduduk Makkah sejak
berabad-abad lamanya, sejak masa Khalifah Umar bin Khattab Ra., telah
menjalankan Tarawih 20 rakaat dengan 3 witir, sehingga sekarang. Jumlah
ini telah disepakati oleh sahabat-sahabat Nabi Saw. Bagi penduduk
Makkah, Tarawih 20 rakaat merupakan ijma’ (konsensus kesepakatan) para
sahabat Nabi Saw.
Sedangkan penduduk Madinah melaksanakan
Tarawih dengan 36 rakaat. Penduduk Makkah setiap pelaksanaan Tarawih 2
kali salaman, semua beristirahat. Pada waktu istirahat, mereka mengisi
dengan thawaf sunnah. Nyaris pelaksanaan shalat Tarawih hingga malam,
bahkan menjelang Shubuh. Di sela-sela Tarawih itulah keuntungan penduduk
Makkah, karena bisa menambah pahala ibadah dengan thawaf. Maka bagi
penduduk Madinah untuk mengimbangi pahala dengan yang di Makkah, mereka
melaksanakan Tarawih dengan jumlah lebih banyak.
Jadi, baik KH.
Ahmad Dahlan dan KH. Hasyim Asy’ari tidak pernah ada perbedaan di dalam
pelaksanaan ubudiyah. Ketua PP. Muhammdiyah, Yunahar Ilyas pernah
menuturkan: “KH. Ahmad Dahlan pada masa hidupnya banyak menganut fiqh
madzhab Syafi’i, termasuk mengamalkan Qunut dalam shalat Shubuh dan
shalat Tarawih 23 rakaat. Namun, setelah berdirinya Majelis Tarjih pada
masa kepemimpinan KH. Mas Manshur, terjadilah revisi-revisi, termasuk
keluarnya Putusan Tarjih yang menuntunkan tidak dipraktekkannya doa
Qunut di dalam shalat Shubuh dan jumlah rakaat shalat Tarawih yang
sebelas rakaat.”
Sedangkan jawaban enteng yang dikemukan oleh
dewan tarjih saat ditanyakan: “Kenapa ubudiyyah (praktek ibadah)
Muhammadiyyah yang dulu dengan sekarang berbeda?” Alasan mereka adalah
karena “Muhammadiyyah bukan Dahlaniyyah”.
Masihkah diantara
kita yang gemar mencela dan mengata-ngatai amaliah-amaliah Ahlussunnah
wal Jama’ah Nahdlatul Ulama sebagai amalan bid’ah, musyrik dan sesat?
sumber
SEJARAH AWAL MUHAMMADIYAH YANG TERLUPAKAN
Perkumpulan Muhammadiyah didirikan pada tanggal 18 November 1912 dan
baru mendapat persetujuan dari Gubernur Jenderal Belanda di Jakarta pada
tanggal 22 Agustus 1914. Al-Habib Abdullah bin Alwi Alattas seorang
staf Jamiat Kheir sangat berperan dalam usaha Ahmad Dahlan menghadapi
kegiatan Missi dan Zending di Jawa ini, ia memberikan bantuan keuangan
untuk berdirinya perkumpulan Muhammadiyah.
Memang pada awalnya perkumpulan ini didirikan sebagai reaksi terhadap kondisi umat Islam di Hindia Belanda terutama di Jawa ketika itu yang dinilai tidak mampu menghadapi tantangan zaman karena lemah dalam berbagai bidang kehidupan. Menurut Hamka, ada tiga faktor yang melemahkan umat Islam, yang dinilai Ahmad Dahlan agak memprihatinkan, yaitu:
1. Keterbelakangan atau kebodohan
2. Kemiskinan
3. Dan kondisi pendidikan Islam yang sangat kuno.
Sehingga tidak mampu mengantisipasi dan bersaing dengan sekolah-sekolah Missi dan Zending.
Menurut Harun Nasution, motivasi lain yang juga menjadi pendorong Ahmad Dahlan, adalah ide-ide Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha yang terdapat dalam majalah al-Manar. Majalah ini juga menjadi salah satu bacaan Ahmad Dahlan terutama sekembali dari tanah suci.
Ahmad Dahlan memberi perhatian besar pada pengajaran dan pendidikan serta menghindari keterlibatan dalam politik praktis. Tujuan ini sama dengan tujuan didirikannya perkumpulan Jamiat Kheir yang menekankan masalah sosial dan pendidikan. Pada Anggaran Dasar Muhammadiyah tahun 1921 tujuan dari perkumpulan ini, yang terdapat pada artikel 2 dan 3 menekankan kepada pengajaran dan pendidikan.
Setelah delapan tahun berdiri, Muhammadiyah telah tersebar ke seluruh pulau Jawa bahkan seluruh Indonesia. Di tiap-tiap cabang didirikan sekolah-sekolah Muhammadiyah. Sekolah-sekolah tersebut terdiri atas sekolah Diniyyah yang khusus mengajarkan agama dan sekolah-sekolah model pemerintah yang memberikan pengajaran agama dan pengajaran umum.
Dilihat dari kurikulum pengajarannya, menampilkan kesan bahwa integrasi materi pengajaran ilmu pengetahuan agama dan ilmu pengetahuan umum, mencerminkan model kurikulum yang telah dirintis oleh perguruan Islam sebelumnya, terutama Jamiat Kheir diterapkan dalam persyarikatan Muhammadiyah.
Pengaruh Jamiat Kheir terhadap Ahmad Dahlan memang terlihat dari pemikirannya tentang pendidikan Islam. Beberapa pernyataan memberi informasi bahwa Ahmad Dahlan menjadi anggota ke-770 Jamiat Kheir. Dalam pengantar buku “Thariqah menuju Kebahagiaan”, al-Habib Muhammad al-Bagir menulis:
“Tertarik kepada ide-ide pembaharuan yang timbul dalam Jamiat Kheir ini, dan yang digambarkan sebagai penggerak Dunia Islam Baru yang pertamakali di Indonesia, khususnya di pulau Jawa, banyak tokoh agama dan nasional mencatatkan diri sebagai anggotanya. Diantara mereka inilah terdapat tokoh-tokoh yang kemudian mendirikan perkumpulan-perkumpulan seperti Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama, Sarekat Islam dan Budi Utomo. Tercatat sebagai anggota antara lain KH. Ahmad Dahlan sebagai anggota nomor 770. Dari sanalah mereka mengenal bacaan-bacaan kaum reformis Islam yang didatangkan dari luar negeri.”
Menurut Karel A. Steenbrink, KH. Ahmad Dahlan bukanlah seorang teoritikus dalam bidang agama. Dia lebih bersifat pragmatikus yang sering menekankan semboyan kepada murid-muridnya: “Sedikit bicara, banyak bekerja”. Dia juga merupakan salah seorang murid ulama Syafi’i, Syaikh Ahmad Khathib Sambas yang terkenal di Mekkah.
KH. Ali Musthafa Ya’kub mengatakan bahwa Ahmad Dahlan melakukan shalat Tarawih dua puluh rakaat, sebagaimana hal tersebut dilakukan oleh KH. Hasyim Asy’ari dan pengikut madzhab Syafi’i di Indonesia.
Bahkan saking dekatnya ikatan emosional KH. Ahmad Dahlan dengan Ahlul Bait, beliau menyarankan bahwa segeralah membentuk organisasi otonom kaum perempuan Muhammadiyah dan nama yang diusulkan beliau adalah Fathimah. Beliau beralasan yang paling pas nama yang disandingkan di sisi Rasulullah Saw. dalam perjuangan dan dakwah Islam adalah putri tercinta Nabi Saw.
Sayyidah Fathimah dan para pengikutnya dinamakan Fathimiyah. Akan tetapi terjadi perdebatan di antara sahabat dan pengurus awal Muhammadiyah mengenai nama Fathimah atau Aisyiyah. Suara terbanyak menginginkan nama Aisyiyah sehingga dinamakanlah organisasi otonom (ortom) itu dengan Aisyiyah.
Sebelum mendirikan Muhammadiyah, KH. Ahmad Dahlan bergabung terlebih dahulu dengan Jamiat Khair, gerakan pembaharu Islam pertama di Indonesia berdiri tahun 1901. Melalui organisasi ini KH. Ahmad Dahlan berkenalan dengan Syaikh Ahmad Surkati (pendiri al-Irsyad) dan al-Habib Abdullah Alattas yang sudah lebih dulu mengenal gagasan pembaharuan Islam serta memiliki akses terhadap publikasi gagasan-gagasan pembaruan Islam di Timur Tengah.
Inilah yang melatarbelakangi ketertarikan KH.Ahmad Dahlan bergabung dengan Jamiat Khair. Organisasi inilah yang mengilhaminya untuk membangun organisasi Islam berwawasan modern.
Tekanan dari penjajah Belanda berpengaruh besar terhadap pergerakan umat Islam di Nusantara. Untuk mengembalikan pergerakan umat Islam ke jalan yang benar, para pengikut pemikiran Jamaluddin al-Afghani dan Muhammad Abduh membawa gerakan pembaharuan melalui pan islamismenya di Kampung Pekojan. Perjuangan dua tokoh ini bak gayung bersambut dan dilaksanakan oleh pejuang Islam tanah air yang kemudian melahirkan sebuah organisasi Islam di Pekojan pada tahun 1901. Organisasi ini diberi nama Jamiat Khair. Didirikan oleh al-Habib Ali Shahab dan al-Habib Idrus Shahab. Organisasi ini tidak bergerak di bidang politik tetapi menitikberatkan pada semangat pembaruan melalui lembaga pendidikan modern.
Meski membangun basis perjuangan melalui pendidikan, Jamiat Khair tidaklah berbentuk sekolah agama melainkan sekolah dasar biasa dengan kurikulum modern. Para siswa tidak melulu diajarkan materi agama tetapi juga materi umum seperti berhitung, sejarah atau ilmu bumi. Rasa nasionalisme mulai dipupuk di organisasi ini. Hal itu terlihat dari penggunaan bahasa Melayu sebagai pengantar dan bukan bahasa Belanda.
Selain itu, organisasi ini juga mewajibkan siswanya mempelajari Bahasa Inggris sebagai pengganti Bahasa Belanda. Sedangkan bahasa Arab dipelajari sebagai pengantar untuk materi keIslaman. Organisasi ini juga tidak membedakan golongan ataupun status seperti yang dilakukan Belanda. Ini lantaran siswa yang belajar tidak hanya golongan keturunan Arab tetapi juga warga bumiputera.
Jamiat Khair juga berperan atas masuknya unsur-unsur modern dalam masyarakat Islam, misalnya keberadaan anggaran dasar, daftar anggota, rapat-rapat berkala dan mendirikan sekolah dengan cara-cara modern. Kelak di kemudian hari organisasi ini menghasilkan tokoh KH. Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyah) dan HOS. Tjokroaminoto (pendiri Syarikat Islam) dan organisasi keIslaman lain di Nusantara.
Wawasan keberagamaan KH. Ahmad Dahlan mengedapankan sikap inklusivitas, pluralitas dan relativitas dalam memandang sebuah pemahaman kebenaran. Kepribadian KH. Ahmad Dahlan ini sangat mewarnai corak penampilan Muhammadiyah pada fase-fase awal.
Dapat kita cermati, bahwa KH. Ahmad Dahlan merupakan orang yang terbuka, respek, toleran, moderat dan serba ingin tahu. Rickes menggambarkan kepribadian KH. Ahmad Dahlan tersebut sebagai berikut:
“Dahlan was a kind of Indonesia of the Calvinist ethic, an energetic, militant, intelligent man some forty year of age, obviously with some Arab blood and stricly orthodox but with a trace of torelance”.
Maka tidak mengejutkan bila dalam pidato terakhir bulan Desember 1922, sebelum meninggal dunia, KH. Ahmad Dahlan menyatakan bahwa problem utama mengapa umat Islam lemah dan sulit bekerjasama ialah karena setiap orang, pemimpin dan kelompok merasa paling benar sendiri dan menganggap segala yang datang dari orang lain, apalagi yang memusuhi, selalu salah, buruk dan jahat. Pesan pidato KH.Ahmad Dahlan tersebut diabadikan Charles Kurzman (2002) di bawah judul “The Unity of Human Life”.
Setelah KH. Ahmad Dahlan wafat pada usia 54 tahun di Yogyakarta, 23 Februari 1923 M dan dimakamkan di Karangkajen, Yogyakarta, salah satu pemimpin Muhammadiyah selanjutnya adalah KH. Mas Manshur, atas idenya Muhammadiyah mendirikan Majelis Tarjih pada tahun 1927, sehingga dengan berdirinya Majelis Tarjih, gerak langkah Muhammadiyah dalam menimbang hukum agama tidak lagi bertaklid kepada satu madzhab dan lebih jelasnya bahwa Muhammadiyah tidak bermadzhab Syafi’i.
KH. Ahmad Dahlan banyak membaca buku-buku dan majalah-majalah agama dan umum, banyak bergaul dengan berbagai kalangan, selama perjalanannya, terutama dengan orang-orang Arab, sehingga ide-idenya bertambah dan berkembang terus. Salah satu kitab yang digemarinya adalah kitab al-Qashaid al-Atthasiyah karya al-Habib Abdullah Alattas.
Meskipun tidak terhitung sebagai ulama besar yang luar biasa ilmunya, tetapi beliau mempunyai hati yang bersih, berjuang karena Allah semata, jauh dari sifat takabur dan ujub, jauh dari kecintaan terhadap kemewahan dunia dan menghindari perdebatan masalah khilafiyah yang tidak membawa manfaat. Selama beliau hidup, Muhammadiyah mengalami masa yang tentram dan damai, jauh dari hiruk pikuk perdebatan masalah-masalah khilafiyah.
Setelah KH. Ahmad Dahlan meninggal, perkumpulan Muhammadiyah disemarakkan banyaknya diskusi-diskusi keagamaan oleh anggotanya baik secara pribadi dalam pertemuan-pertemuan maupun melibatkan perkumpulan, seperti yang terjadi pada kongres Islam di Surabaya tahun 1924. Topik utama yang didiskusikan dalam kongres ini antara lain adalah masalah ijtihad di seputar ajaran Muhammadiyah dan al-Irsyad.
Diantara keputusan penting yang dihasilkan dalam kongres ini adalah bahwa Muhammadiyah dan al-Irsyad tidak sama dengan orang-orang Wahabi, bahwa kedua organisasi ini tidak dianggap menyimpang dari madzhab-madzhab hukum Islam, dan mereka yang melakukan tawassul tidak dianggap kafir.
Setelah terjadi perdebatan panjang, hangat dan tajam dalam kongres, para pemimpin muslim yang hadir sepakat bahwa pintu ijtihad masih terbuka dan dapat dilakukan oleh mereka yang memahami bahasa Arab dan menguasai teks-teks al-Quran dan Hadits, menguasai ijma’ ulama, mengetahui para perawi hadits dan riwayat mereka, dan mengetahui alasan-alasan turunnya al-Quran dan dikeluarkannya matan-matan hadits.
Muhammadiyah selalu terbuka dan terus berkembang, termasuk dalam hal keputusan Tarjih. Hal ini karena dalam penentuan sebuah keputusan Tarjih diambil dengan cara mencari yang paling kuat dasarnya, bahkan bisa terjadi tidak sejalan dengan praktik yang dilakukan pendirinya, KH. Ahmad Dahlan. Demikian dikatakan Dr. Yunahar Ilyas di tengah Pengajian Mahasiswa, kamis (7/02/2008) di Kantor PP Muhammadiyah, Jl. Cik Di Tiro Yogyakarta.
Menurut Ketua PP Muhammadiyah tersebut: “KH.Ahmad Dahlan pada masa hidupnya banyak menganut fiqh madzhab Syafi’i, termasuk mengamalkan Qunut dalam shalat Shubuh dan shalat Tarawih 20 rakaat. Namun, setelah berdiriya Majelis Tarjih pada masa kepemimpinan KH. Mas Manshur, terjadilah revisi-revisi setelah melakukan kajian mendalam, termasuk keluarnya Putusan Tarjih yang menuntunkan tidak dipraktikkannya doa Qunut di dalam shalat Shubuh dan jumlah rakaat shalat Tarawih menjadi sebelas rakat. Ini wujud keterbukaan Muhammadiyah yang tidak fanatik”, tegas Dr. Yunahar.
Dr. Yunahar lebih lanjut berkisah bahwa dahulu ketika Ahmad Dahlan muda bermukin di Makkah, sempat belajar kepada Syaikh Ahmad Khatib yang saat itu juga bersama Hasyim Asy’ari yang kemudian menjadi salah satu pendiri Nadhatul Ulama. Karena Syaikh Ahmad Khatib adalah seorang ulama bermadzhab Syafi’i, maka praktik ibadah KH. Ahmad Dahlan banyak yang mengikuti fiqh madzhab Syafi’i.
Hanya saja, karena KH. Ahmad Dahlan mendapat tugas dari Syaikh Ahmad Khatib untuk mempelajari al-Manar, karya Rasyid Ridha, maka KH. Ahmad Dahlan terpengaruh juga dengan pemikiran Rasyid Ridha yang menekankan tidak bermadzhab. “Contohnya, bila ada satu masalah yang kuat dasarnya Madzhab Syafi’i yang dianut Madzhab Syafi’i, kalau suatu masalah kuat Madzhab Hanafi, yang dianut Madzhab Hanafi”, terang Dr. Yunahar. Hal inilah yang kemudian dianut Muhammadiyah, termasuk dalam pengambilan Putusan Tarjih.
Ringkasan Kitab Fiqih Muhammadiyyah, penerbit Muhammadiyyah Bagian Taman Poestaka Jogjakarta, jilid III, diterbitkan th 1343 H (sekitar th 1926):
1. Niat shalat pakai “Ushalli Fardha...” (halaman 25).
2. Setelah takbir membaca “Allahu Akbar Kabiran Walhamdulillahi Katsira...” (halaman 25).
3. Membaca surat al-Fatihah memakai bacaan “Bismillahirrahmanirrahim” (halaman 26).
4. Setiap shalat Shubuh membaca doa Qunut (halaman 27).
5. Membaca shalawat dengan memakai kata “Sayyidina”, baik di luar maupun dalam shalat (halaman 29).
6. Setelah shalat disunnahkan membaca wiridan: “Istighfar, Allahumma Antassalam, Subhanallah 33x, Alhamdulillah 33x, Allahu Akbar 33x” (halaman 40-42).
7. Shalat Tarawih 20 rakaat, tiap 2 rakaat 1 salam (halaman 49-50).
8. Tentang shalat & khutbah Jum’at juga sama dengan amaliah NU (halaman 57-60).
Refferensi:
• “Kitab Fiqih Muhammadiyyah” karya KH. Ahmad Dahlan.
• “Muhammadiyah Gerakan Reformasi Islam di Jawa pada Awal Abad ke-20” karya Jainuri.
• “Riwayat Hidup KH. Ahmad Dahlan Amal Perjuangannya” karya Junus Salam.
• “Hadits-hadits Bermasalah” karya KH. Ali Mustafa Ya’kub.
• Buku karya Karel A. Steenbrink
• Buku karya Deliar Noer
Sya’roni As-Samfuriy, Indramayu 5 Rabi’ul Awwal 1434 H
Memang pada awalnya perkumpulan ini didirikan sebagai reaksi terhadap kondisi umat Islam di Hindia Belanda terutama di Jawa ketika itu yang dinilai tidak mampu menghadapi tantangan zaman karena lemah dalam berbagai bidang kehidupan. Menurut Hamka, ada tiga faktor yang melemahkan umat Islam, yang dinilai Ahmad Dahlan agak memprihatinkan, yaitu:
1. Keterbelakangan atau kebodohan
2. Kemiskinan
3. Dan kondisi pendidikan Islam yang sangat kuno.
Sehingga tidak mampu mengantisipasi dan bersaing dengan sekolah-sekolah Missi dan Zending.
Menurut Harun Nasution, motivasi lain yang juga menjadi pendorong Ahmad Dahlan, adalah ide-ide Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha yang terdapat dalam majalah al-Manar. Majalah ini juga menjadi salah satu bacaan Ahmad Dahlan terutama sekembali dari tanah suci.
Ahmad Dahlan memberi perhatian besar pada pengajaran dan pendidikan serta menghindari keterlibatan dalam politik praktis. Tujuan ini sama dengan tujuan didirikannya perkumpulan Jamiat Kheir yang menekankan masalah sosial dan pendidikan. Pada Anggaran Dasar Muhammadiyah tahun 1921 tujuan dari perkumpulan ini, yang terdapat pada artikel 2 dan 3 menekankan kepada pengajaran dan pendidikan.
Setelah delapan tahun berdiri, Muhammadiyah telah tersebar ke seluruh pulau Jawa bahkan seluruh Indonesia. Di tiap-tiap cabang didirikan sekolah-sekolah Muhammadiyah. Sekolah-sekolah tersebut terdiri atas sekolah Diniyyah yang khusus mengajarkan agama dan sekolah-sekolah model pemerintah yang memberikan pengajaran agama dan pengajaran umum.
Dilihat dari kurikulum pengajarannya, menampilkan kesan bahwa integrasi materi pengajaran ilmu pengetahuan agama dan ilmu pengetahuan umum, mencerminkan model kurikulum yang telah dirintis oleh perguruan Islam sebelumnya, terutama Jamiat Kheir diterapkan dalam persyarikatan Muhammadiyah.
Pengaruh Jamiat Kheir terhadap Ahmad Dahlan memang terlihat dari pemikirannya tentang pendidikan Islam. Beberapa pernyataan memberi informasi bahwa Ahmad Dahlan menjadi anggota ke-770 Jamiat Kheir. Dalam pengantar buku “Thariqah menuju Kebahagiaan”, al-Habib Muhammad al-Bagir menulis:
“Tertarik kepada ide-ide pembaharuan yang timbul dalam Jamiat Kheir ini, dan yang digambarkan sebagai penggerak Dunia Islam Baru yang pertamakali di Indonesia, khususnya di pulau Jawa, banyak tokoh agama dan nasional mencatatkan diri sebagai anggotanya. Diantara mereka inilah terdapat tokoh-tokoh yang kemudian mendirikan perkumpulan-perkumpulan seperti Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama, Sarekat Islam dan Budi Utomo. Tercatat sebagai anggota antara lain KH. Ahmad Dahlan sebagai anggota nomor 770. Dari sanalah mereka mengenal bacaan-bacaan kaum reformis Islam yang didatangkan dari luar negeri.”
Menurut Karel A. Steenbrink, KH. Ahmad Dahlan bukanlah seorang teoritikus dalam bidang agama. Dia lebih bersifat pragmatikus yang sering menekankan semboyan kepada murid-muridnya: “Sedikit bicara, banyak bekerja”. Dia juga merupakan salah seorang murid ulama Syafi’i, Syaikh Ahmad Khathib Sambas yang terkenal di Mekkah.
KH. Ali Musthafa Ya’kub mengatakan bahwa Ahmad Dahlan melakukan shalat Tarawih dua puluh rakaat, sebagaimana hal tersebut dilakukan oleh KH. Hasyim Asy’ari dan pengikut madzhab Syafi’i di Indonesia.
Bahkan saking dekatnya ikatan emosional KH. Ahmad Dahlan dengan Ahlul Bait, beliau menyarankan bahwa segeralah membentuk organisasi otonom kaum perempuan Muhammadiyah dan nama yang diusulkan beliau adalah Fathimah. Beliau beralasan yang paling pas nama yang disandingkan di sisi Rasulullah Saw. dalam perjuangan dan dakwah Islam adalah putri tercinta Nabi Saw.
Sayyidah Fathimah dan para pengikutnya dinamakan Fathimiyah. Akan tetapi terjadi perdebatan di antara sahabat dan pengurus awal Muhammadiyah mengenai nama Fathimah atau Aisyiyah. Suara terbanyak menginginkan nama Aisyiyah sehingga dinamakanlah organisasi otonom (ortom) itu dengan Aisyiyah.
Sebelum mendirikan Muhammadiyah, KH. Ahmad Dahlan bergabung terlebih dahulu dengan Jamiat Khair, gerakan pembaharu Islam pertama di Indonesia berdiri tahun 1901. Melalui organisasi ini KH. Ahmad Dahlan berkenalan dengan Syaikh Ahmad Surkati (pendiri al-Irsyad) dan al-Habib Abdullah Alattas yang sudah lebih dulu mengenal gagasan pembaharuan Islam serta memiliki akses terhadap publikasi gagasan-gagasan pembaruan Islam di Timur Tengah.
Inilah yang melatarbelakangi ketertarikan KH.Ahmad Dahlan bergabung dengan Jamiat Khair. Organisasi inilah yang mengilhaminya untuk membangun organisasi Islam berwawasan modern.
Tekanan dari penjajah Belanda berpengaruh besar terhadap pergerakan umat Islam di Nusantara. Untuk mengembalikan pergerakan umat Islam ke jalan yang benar, para pengikut pemikiran Jamaluddin al-Afghani dan Muhammad Abduh membawa gerakan pembaharuan melalui pan islamismenya di Kampung Pekojan. Perjuangan dua tokoh ini bak gayung bersambut dan dilaksanakan oleh pejuang Islam tanah air yang kemudian melahirkan sebuah organisasi Islam di Pekojan pada tahun 1901. Organisasi ini diberi nama Jamiat Khair. Didirikan oleh al-Habib Ali Shahab dan al-Habib Idrus Shahab. Organisasi ini tidak bergerak di bidang politik tetapi menitikberatkan pada semangat pembaruan melalui lembaga pendidikan modern.
Meski membangun basis perjuangan melalui pendidikan, Jamiat Khair tidaklah berbentuk sekolah agama melainkan sekolah dasar biasa dengan kurikulum modern. Para siswa tidak melulu diajarkan materi agama tetapi juga materi umum seperti berhitung, sejarah atau ilmu bumi. Rasa nasionalisme mulai dipupuk di organisasi ini. Hal itu terlihat dari penggunaan bahasa Melayu sebagai pengantar dan bukan bahasa Belanda.
Selain itu, organisasi ini juga mewajibkan siswanya mempelajari Bahasa Inggris sebagai pengganti Bahasa Belanda. Sedangkan bahasa Arab dipelajari sebagai pengantar untuk materi keIslaman. Organisasi ini juga tidak membedakan golongan ataupun status seperti yang dilakukan Belanda. Ini lantaran siswa yang belajar tidak hanya golongan keturunan Arab tetapi juga warga bumiputera.
Jamiat Khair juga berperan atas masuknya unsur-unsur modern dalam masyarakat Islam, misalnya keberadaan anggaran dasar, daftar anggota, rapat-rapat berkala dan mendirikan sekolah dengan cara-cara modern. Kelak di kemudian hari organisasi ini menghasilkan tokoh KH. Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyah) dan HOS. Tjokroaminoto (pendiri Syarikat Islam) dan organisasi keIslaman lain di Nusantara.
Wawasan keberagamaan KH. Ahmad Dahlan mengedapankan sikap inklusivitas, pluralitas dan relativitas dalam memandang sebuah pemahaman kebenaran. Kepribadian KH. Ahmad Dahlan ini sangat mewarnai corak penampilan Muhammadiyah pada fase-fase awal.
Dapat kita cermati, bahwa KH. Ahmad Dahlan merupakan orang yang terbuka, respek, toleran, moderat dan serba ingin tahu. Rickes menggambarkan kepribadian KH. Ahmad Dahlan tersebut sebagai berikut:
“Dahlan was a kind of Indonesia of the Calvinist ethic, an energetic, militant, intelligent man some forty year of age, obviously with some Arab blood and stricly orthodox but with a trace of torelance”.
Maka tidak mengejutkan bila dalam pidato terakhir bulan Desember 1922, sebelum meninggal dunia, KH. Ahmad Dahlan menyatakan bahwa problem utama mengapa umat Islam lemah dan sulit bekerjasama ialah karena setiap orang, pemimpin dan kelompok merasa paling benar sendiri dan menganggap segala yang datang dari orang lain, apalagi yang memusuhi, selalu salah, buruk dan jahat. Pesan pidato KH.Ahmad Dahlan tersebut diabadikan Charles Kurzman (2002) di bawah judul “The Unity of Human Life”.
Setelah KH. Ahmad Dahlan wafat pada usia 54 tahun di Yogyakarta, 23 Februari 1923 M dan dimakamkan di Karangkajen, Yogyakarta, salah satu pemimpin Muhammadiyah selanjutnya adalah KH. Mas Manshur, atas idenya Muhammadiyah mendirikan Majelis Tarjih pada tahun 1927, sehingga dengan berdirinya Majelis Tarjih, gerak langkah Muhammadiyah dalam menimbang hukum agama tidak lagi bertaklid kepada satu madzhab dan lebih jelasnya bahwa Muhammadiyah tidak bermadzhab Syafi’i.
KH. Ahmad Dahlan banyak membaca buku-buku dan majalah-majalah agama dan umum, banyak bergaul dengan berbagai kalangan, selama perjalanannya, terutama dengan orang-orang Arab, sehingga ide-idenya bertambah dan berkembang terus. Salah satu kitab yang digemarinya adalah kitab al-Qashaid al-Atthasiyah karya al-Habib Abdullah Alattas.
Meskipun tidak terhitung sebagai ulama besar yang luar biasa ilmunya, tetapi beliau mempunyai hati yang bersih, berjuang karena Allah semata, jauh dari sifat takabur dan ujub, jauh dari kecintaan terhadap kemewahan dunia dan menghindari perdebatan masalah khilafiyah yang tidak membawa manfaat. Selama beliau hidup, Muhammadiyah mengalami masa yang tentram dan damai, jauh dari hiruk pikuk perdebatan masalah-masalah khilafiyah.
Setelah KH. Ahmad Dahlan meninggal, perkumpulan Muhammadiyah disemarakkan banyaknya diskusi-diskusi keagamaan oleh anggotanya baik secara pribadi dalam pertemuan-pertemuan maupun melibatkan perkumpulan, seperti yang terjadi pada kongres Islam di Surabaya tahun 1924. Topik utama yang didiskusikan dalam kongres ini antara lain adalah masalah ijtihad di seputar ajaran Muhammadiyah dan al-Irsyad.
Diantara keputusan penting yang dihasilkan dalam kongres ini adalah bahwa Muhammadiyah dan al-Irsyad tidak sama dengan orang-orang Wahabi, bahwa kedua organisasi ini tidak dianggap menyimpang dari madzhab-madzhab hukum Islam, dan mereka yang melakukan tawassul tidak dianggap kafir.
Setelah terjadi perdebatan panjang, hangat dan tajam dalam kongres, para pemimpin muslim yang hadir sepakat bahwa pintu ijtihad masih terbuka dan dapat dilakukan oleh mereka yang memahami bahasa Arab dan menguasai teks-teks al-Quran dan Hadits, menguasai ijma’ ulama, mengetahui para perawi hadits dan riwayat mereka, dan mengetahui alasan-alasan turunnya al-Quran dan dikeluarkannya matan-matan hadits.
Muhammadiyah selalu terbuka dan terus berkembang, termasuk dalam hal keputusan Tarjih. Hal ini karena dalam penentuan sebuah keputusan Tarjih diambil dengan cara mencari yang paling kuat dasarnya, bahkan bisa terjadi tidak sejalan dengan praktik yang dilakukan pendirinya, KH. Ahmad Dahlan. Demikian dikatakan Dr. Yunahar Ilyas di tengah Pengajian Mahasiswa, kamis (7/02/2008) di Kantor PP Muhammadiyah, Jl. Cik Di Tiro Yogyakarta.
Menurut Ketua PP Muhammadiyah tersebut: “KH.Ahmad Dahlan pada masa hidupnya banyak menganut fiqh madzhab Syafi’i, termasuk mengamalkan Qunut dalam shalat Shubuh dan shalat Tarawih 20 rakaat. Namun, setelah berdiriya Majelis Tarjih pada masa kepemimpinan KH. Mas Manshur, terjadilah revisi-revisi setelah melakukan kajian mendalam, termasuk keluarnya Putusan Tarjih yang menuntunkan tidak dipraktikkannya doa Qunut di dalam shalat Shubuh dan jumlah rakaat shalat Tarawih menjadi sebelas rakat. Ini wujud keterbukaan Muhammadiyah yang tidak fanatik”, tegas Dr. Yunahar.
Dr. Yunahar lebih lanjut berkisah bahwa dahulu ketika Ahmad Dahlan muda bermukin di Makkah, sempat belajar kepada Syaikh Ahmad Khatib yang saat itu juga bersama Hasyim Asy’ari yang kemudian menjadi salah satu pendiri Nadhatul Ulama. Karena Syaikh Ahmad Khatib adalah seorang ulama bermadzhab Syafi’i, maka praktik ibadah KH. Ahmad Dahlan banyak yang mengikuti fiqh madzhab Syafi’i.
Hanya saja, karena KH. Ahmad Dahlan mendapat tugas dari Syaikh Ahmad Khatib untuk mempelajari al-Manar, karya Rasyid Ridha, maka KH. Ahmad Dahlan terpengaruh juga dengan pemikiran Rasyid Ridha yang menekankan tidak bermadzhab. “Contohnya, bila ada satu masalah yang kuat dasarnya Madzhab Syafi’i yang dianut Madzhab Syafi’i, kalau suatu masalah kuat Madzhab Hanafi, yang dianut Madzhab Hanafi”, terang Dr. Yunahar. Hal inilah yang kemudian dianut Muhammadiyah, termasuk dalam pengambilan Putusan Tarjih.
Ringkasan Kitab Fiqih Muhammadiyyah, penerbit Muhammadiyyah Bagian Taman Poestaka Jogjakarta, jilid III, diterbitkan th 1343 H (sekitar th 1926):
1. Niat shalat pakai “Ushalli Fardha...” (halaman 25).
2. Setelah takbir membaca “Allahu Akbar Kabiran Walhamdulillahi Katsira...” (halaman 25).
3. Membaca surat al-Fatihah memakai bacaan “Bismillahirrahmanirrahim”
4. Setiap shalat Shubuh membaca doa Qunut (halaman 27).
5. Membaca shalawat dengan memakai kata “Sayyidina”, baik di luar maupun dalam shalat (halaman 29).
6. Setelah shalat disunnahkan membaca wiridan: “Istighfar, Allahumma Antassalam, Subhanallah 33x, Alhamdulillah 33x, Allahu Akbar 33x” (halaman 40-42).
7. Shalat Tarawih 20 rakaat, tiap 2 rakaat 1 salam (halaman 49-50).
8. Tentang shalat & khutbah Jum’at juga sama dengan amaliah NU (halaman 57-60).
Refferensi:
• “Kitab Fiqih Muhammadiyyah” karya KH. Ahmad Dahlan.
• “Muhammadiyah Gerakan Reformasi Islam di Jawa pada Awal Abad ke-20” karya Jainuri.
• “Riwayat Hidup KH. Ahmad Dahlan Amal Perjuangannya” karya Junus Salam.
• “Hadits-hadits Bermasalah” karya KH. Ali Mustafa Ya’kub.
• Buku karya Karel A. Steenbrink
• Buku karya Deliar Noer
Sya’roni As-Samfuriy, Indramayu 5 Rabi’ul Awwal 1434 H
Langganan:
Postingan (Atom)



.png)